2148044 - ADE RUHIMAT LUKMAN

Nama : Ade Ruhimat Lukman

Nim : 2148044

DPA 3B



 KEPULAUAN BANGKA BELITUNG


A.Secara geografis provinsi Kepulauan Bangka Belitung terletak pada 1º50' – 3º10' LS dan 105º–108º BT.





B. Luas Dan Batas Wilayah.

 Total luas wilayah daratan dan wilayah lautan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 81.725,06 km2. Luas daratan lebih kurang 16.424,06 km2 atau 20,10 persen dari total wilayah dan luas laut kurang lebih 65.301 km2 atau 79,90 persen dari total wilayah Provinsi Kepulauan B Total luas wilayah daratan dan wilayah lautan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 81.725,06 km2. Luas daratan lebih kurang 16.424,06 km2 atau 20,10 persen dari total wilayah dan luas laut kurang lebih 65.301 km2 atau 79,90 persen dari total wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.angka Belitung.

>Di sebelah barat dengan selat Bangka
>Di sebelah timur dengan selat karimata
>Di sebelah utara dengan Laut Natuna
>Di sebelah Selatan dengan laut Jawa.
C. Sejarah

Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terutama Pulau Bangka berganti-ganti menjadi daerah taklukan  Kerajaan_Sriwijaya dan Majapahit . Setelah kapitulasi dengan Belanda, Kepulauan Bangka Belitung menjadi jajahan inggris sebagai "Duke of Island". 20 Mei 1812 kekuasaan Inggris berakhir setelah konvensi London 13 Agustus 1824, terjadi peralihan kekuasaan daerah jajahan Kepulauan Bangka Belitung antara MH. Court (Inggris) dengan K. Hcyes (Belanda) di Muntok pada 10 Desember 1826.

 

Kekuasaan Belanda mendapat perlawanan Depati Barin dan putranya Depati Amir yang dikenal sebagai perang Depati Amir (1849–1851). Kekalahan perang Depati Amir menyebabkan Depati Amir diasingkan ke Desa Air Mata Kupang NTT. Atas dasar stbl. 565, tanggal 2 Desember 1933 pada tanggal 11 Maret 1933 dibentuk Resindetail Bangka Belitung Onderhoregenheden yang dipimpin seorang residen Bangka Belitung dengan 6 Onderafdehify yang dipimpin oleh Ast. Residen.

 

Di Pulau Bangka terdapat 5 Onderafdehify yang akhirnya menjadi 5 keresidenan sedang di Pulau Belitung terdapat 1 keresidenan. Di zaman Jepang, Keresidenan Bangka Belitung diperintah oleh pemerintahan Militer Jepang yang disebut Bangka Beliton Ginseibu. Setelah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, oleh Belanda dibentuk Dewan Bangka Sementara pada 10 Desember 1946 (stbl.1946 No.38) yang selanjutnya resmi menjadi Dewan Bangka yang diketuai oleh Musarif Datuk Bandaharo Leo yang dilantik oleh Belanda pada 11 November 1947. Dewan Bangka merupakan Lembaga Pemerintahan Otonomi Tinggi.

 

Pada 23 januari 1948 (stb1.1948 No.123), Dewan Bangka, Dewan Belitung dan Dewan Riau bergabung dalam Federasi Bangka Belitung dan Riau (FABERI) yang merupakan suatu bagian dalam Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Berdasarkan Keputusan Presiden RIS Nomor 141 Tahun 1950 kembali bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga berlaku undang-undang Nomor 22 Tahun 1948. Pada tanggal 22 April 1950 oleh Pemerintah diserahkan wilayah Bangka Belitung kepada Gubernur Sumatra Selatan Dr. Mohd. Isa yang disaksikan oleh Perdana Menteri Dr. Hakim dan Dewan Bangka Belitung dibubarkan.

 

Sebagai Residen Bangka Belitung ditunjuk R. Soemardja yang berkedudukan di Pangkal Pinang. Berdasarkan UUDS 1950 dan UU Nomor 22 Tahun 1948 dan UU Darurat Nomor 4 tanggal 16 November 1956 Keresidenan Bangka Belitung berada di Sumatra Selatan yaitu Kabupaten Bangka dan dibentuk juga kota kecil Pangkalpinang. Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1957, Pangkalpinang menjadi Kotapraja. Pada tanggal 13 Mei 1971, Presiden Soeharto meresmikan Sungai Liat sebagai ibu kota Kabupaten Bangka.

 Berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2000 wilayah Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung menjadi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dengan Pejabat Gubernur pertama Drs Amur Muhasyim SH dan Ketua DPRD pertama H. Emron Pangkapi (Bang Emran). Selanjutnya sejak tanggal 27 Januari 2003 Provinsi Kepualauan Bangka Belitung mengalami pemekaran wilayah dengan menambah 4 Kabupaten baru yaitu Kabupaten Bangka Barat, Bangka Tengah, Belitung Timur dan Bangka Selatan.

 

D. Aspek Demografi
 

Jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2010 (SP2010) sebesar 1.223.296 jiwa menunjukkan peningkatan 36,06 persen dari tahun 2000, dengan jumlah penduduk sebesar 899.095 jiwa (hasil Sensus Penduduk 2000). Penduduk Bangka Belitung disebut orang Melayu Bangka-Belitung

 

Jumlah penduduk laki-laki pada tahun 2010 sebanyak 635.094 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 588.202 jiwa. Rasio jenis kelamin tahun yang sama sebesar 108, artinya pada tahun 2010 untuk setiap 208 penduduk di Kepulauan Bangka Belitung terdapat 100 penduduk perempuan dan 108 penduduk laki-laki. Tingkat pertumbuhan penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2010 sebesar 2,83 persen, jika ditinjau menurut kabupaten/kota untuk periode tahun 2010, tingkat pertumbuhan tertinggi terdapat di Kabupaten Bangka Tengah3,43 persen, diikuti Kota Pangkalpinang 3,06 persen dan Kabupaten Bangka 2,79 persen. Jumlah rumahtangga di Kepulauan Bangka Belitung tahun 2010 sebanyak 311.145 rumahtangga dan kabupaten yang memiliki jumlah rumahtangga terbesar adalah Kabupaten Bangka sebesar 70.468 rumahtangga dan yang memiliki jumlah rumahtangga terendah adalah Belitung Timur sebesar 27.941 rumahtangga.

Adapun tingkat kepadatan penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 74 orang per km2, apabila dilihat menurut kabupaten/kota, Kota Pangkalpinang memiliki tingkat kepadatan tertinggi yaitu sebesar 1.471 orang per km2 dan Kabupaten Belitung Timur memiliki tingkat kepadatan terendah yaitu 42 orang per km2.


 




E. Agama dan Suku bangsa

 Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) sebanyak 1,46 juta jiwa pada Juni 2021. Dari jumlah tersebut, terdapat 1,31 juta atau 89,99% penduduk yang beragama Islam.

Ada 64,39 ribu jiwa atau 4,42% penduduk Babel yang memeluk agama Buddha. Ada pula 30,47 ribu jiwa atau 2,09% penduduk di provinsi yang tersebut yang beragama Kristen. Terdapat 29,29 ribu jiwa (2,01%) penduduk Babel yang beragama Konghucu. Terdapat pula 19,01 ribu jiwa (1,31%) penduduk di provinsi tersebut yang memeluk agama Katolik.

 

Penduduk Babel yang memeluk agama Hindu sebanyak 1,2 ribu jiwa (0,08%) dan yang menganut aliran kepercayaan sebanyak 1,26 ribu jiwa (0,09%).

1. Suku Ameng Sewang




Suku Yang Ada Di Bangka Belitung yang pertama adalah Suku Ameng sewang yang merupakan suku orang laut yang berada di perairan Belitung provinsi Bangka Belitung.

 

Kelompok masyarakat ini bermata pencaharian sebagai nelayan dan pencari ikan di daerah pantai. Jika air sedang surut, biasanya mereka berpindah ke tempat lain yang potensi hasil ikannya lebih banyak.

 

Oleh karena kehidupan yang tidak menetap, suku Ameng Sewang tidak memiliki tempat tinggal permanen.

 

Mereka hanya membangun gubuk kecil di pinggir pesisir atau mendiami sampan-sampan di daerah pantai.

 

Jika sedang tidak memancing, masyarakat biasanya berkumpul di pinggir pantai sambil merokok bersama seluruh anggota keluarga.

 

Mayoritas suku Ameng Sewang beragama Islam atau muslim.

 

Maka dari itu, masyarakat terlarang untuk mengonsumsi minuman keras sekalipun hanya meminum tuak nira.

2. Suku Bangsa Lom



Suku bangsa Lom merupakan salah satu Suku Yang Ada Di Bangka Belitung.

 

Suku bangsa Lom juga menjadi suku bangsa tertua di Bangka Belitung.

 

Menurut para sejarawan, suku bangsa ini berasal dari Kerajaan Majapahit yang melarikan diri karena enggan untuk memeluk agama Islam.

 

Maka dari itu, kelompok masyarakat ini lebih suka mendiami wilayah pedalaman dan hutan untuk menghindari interaksi dengan masyarakat sekitar.

 

Pada tahun 1973, Suku Bangsa Lom terpecah menjadi dua bagian yaitu Suku Lom Luar dan Suku Lom Dalam. Suku Lom Luar adalah suku Lom yang turun gunung pasca terbukanya lahan baru untuk pemukiman.

 

Sedangkan suku Lom Dalam adalah Suku Lom yang masih bertahan di dalam hutan dan enggan untuk bergabung dengan masyarakat umum.

 

Saat ini, masyarakat suku Lom Luar sudah hidup seperti masyarakat biasa serta sudah berbaur dengan kebiasaan warga sekitar.

 

Populasi yang ada berjumlah 130 orang padahal di tahun 1973 jumlahnya masih belasan orang.

 

Sedangkan suku Lom Dalam benar-benar hidup terasing. Mereka senantiasa menjaga jarak dengan orang luar. Bahkan jarak antar kampung pun sangat jauh hingga mencapai 5 km.

 

3. Suku Sekak


Suku Sekak juga menjadi bagian dari salah satu Suku Yang Ada Di Bangka Belitung.suku Sekak merupakan sub Suku Orang Laut Bangka Belitung yang sudah hidup modern.Menurut informasi terbaru, mereka tidak lagi bermata pencaharian sebagai nelayan dan penangkap ikan tetapi sudah banyak yang berkebun dan bertani.Kelompok masyarakat ini menggarap lahan pemberian pemerintah pasca mereka naik ke daratan di tahun 1973.Saat ini, suku Sekak tidak hanya menggantungkan kehidupannya pada bertani dan berkebun saja.Tetapi, banyak yang ikut menambang timah utamanya pertambangan garapan perusahaan swasta.Hal inilah yang menjadikan Suku Sekak tidak lagi menjadi suku terasing di Provinsi Bangka Belitung.

 

F. Ekonomi

 

 Perekonomian Kepulauan Bangka Belitung tahun 2019 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp75,83 triliun dan PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) 2010 mencapai Rp53,95 triliun. Sementara itu PDRB per Kapita Kepulauan Bangka Belitung tahun 2019 mencapai Rp50,93 juta.

 

 Ekonomi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2019 tumbuh sebesar 3,32 persen, melambat dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 4,46 persen. Dari sisi produksi, sumber pertumbuhan terbesar berasal dari Lapangan Usaha Konstruksi. Sementara dari sisi pengeluaran, sumber pertumbuhan terbesar berasal dari Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga.

 

Ekonomi Kepulauan Bangka Belitung triwulan IV-2019 bila dibandingkan triwulan IV-2018 (y-on-y) tumbuh sebesar 3,99 persen, meningkat bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 3,71 persen.

 

 Ekonomi Kepulauan Bangka Belitung triwulan IV-2019 bila dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q) terkontraksi sebesar 0,88 persen. Dari sisi produksi, kontraksi pertumbuhan ini dipengaruhi oleh kontraksi yang terjadi pada beberapa lapangan usaha yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti Pertanian, Kehutanan dan Perikanan; Pertambangan dan Penggalian serta Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor. Dari sisi pengeluaran, meskipun terjadi peningkatan laju di beberapa komponen pengeluaran namun belum mampu mendorong peningkatan laju perekonomian Kepulauan Bangka Belitung secara keseluruhan. Salah satu komponen yang menyumbang kontraksi perekonomian adalah komponen perubahan inventori.

 

 

 Pertumbuhan ekonomi Pulau Sumatera tahun 2019 mencapai 4,57 persen, meningkat dibanding tahun 2018 yang tumbuh sebesar 4,55 persen. Total PDRB ADHB Pulau Sumatera pada tahun 2019 mencapai Rp3.427,23 triliun atau sekitar 21,31 persen dari total PDRB 34 provinsi di Indonesia. Sementara PDRB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hanya memberikan kontribusi sebesar 2,21 persen terhadap PDRB Pulau Sumatera dan 0,47 persen terhadap total PDRB 34 provinsi di Indonesia

 

 


G. Pemerintahan

 

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah provinsi di indonesia yang dipimpin oleh seorang Gubernur. Sebelum menjadi sebuah provinsi, Bangka Belitung merupakan bagian dari provinsi Sumatra Selatan.
No.PotretGubernurMulai menjabatAkhir menjabatPartaiWakil GubernurPeriodeReferensi
1Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hudarni Rani.jpgHudarni Rani22 April 200226 April 2007Partai Golongan Karya Suryadi Saman1
(2002)
[8]
2Eko Maulana Ali.jpgEko Maulana Ali26 April 200726 April 2012Partai Golongan Karya Syamsuddin Basari2
(2007)
26 April 201230 Juli 2013[a] Rustam Effendi3
(2012)
3Gubernur-Babel-Rustam-Effendi.jpgRustam Effendi23 September 201326 April 2017Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hidayat Arsani
4Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman Djohan.jpgErzaldi Rosman Djohan12 Mei 201712 Mei 2022Partai Gerakan Indonesia Raya Abdul Fatah4
(2017)

H. Pariwisata

 

1. Danau Kaolin



Danau Kaolin merupakan tempat wisata Bangka Belitung yang wajib dijamah oleh wisatawan. Setiap wisatawan wajib menyaksikan indahnya warna air biru danau dari bekas penggalian tambang timah. Selain itu, kamu juga akan dibuat terpana dengan danau berwarna hijau pada sisi sebelahnya. Danau Kaolin ini hanya berjarak 50 meter dari Pangkalpinang dan hanya memerlukan waktu satu jam perjalanan saja.

 

Note: Waktu terbaik datang ke sini adalah pada sore hari sambil menyaksikan sang surya terbenam.

 

Alamat: Perawas, Tj. Pandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung

 

Jam Buka: Buka setiap hari pukul 7.30 AM – 18.00 PM

 

Tiket Masuk: Rp 10.000 per orang.

 

 

 

2. Gunung Menumbing



Menyusuri wisata Bangka Belitung, kamu wajib lihat langsung seperti apa tempat pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta oleh Belanda pada tahun 1948 silam. Tempat tersebut berada di dalam Gunung Menumbing, dengan ketinggian sekitar 355 mdpl. Saat masuk ke dalam, kamu akan menemukan ruangan rapat Bung Karno dan Bung Hatta, mobil Ford yang menjadi kendaraanya saat berada di pulau ini, kamar tidur mereka, hingga lonceng tua yang konon digunakan untuk memanggil tentara Belanda berkumpul saat itu.

 

I. Budaya.

  - Rumah panggung

Secara umum arsitektur di Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu seperti yang ditemukan di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatra dan Malaka. Di daerah ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman. Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta bukaan banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur yang berdiri di atas tiang rumah yang ditanam dalam tanah.

 

Berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang. Bangunan didirikan di atas 9 buah tiang, dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Atap ditutup dengan daun rumbia. Dindingnya biasanya dibuat dari pelepah/kulit kayu atau buluh (bambu). Rumah Melayu Bubung Panjang biasanya karena ada penambahan bangunan di sisi bangunan yang ada sebelumnya, sedangkan Bubung Limas karena pengaruh dari Palembang. Sebagian dari atap sisi bangunan dengan arsitektur ini terpancung. Selain pengaruh arsitektur Melayu ditemukan pula pengaruh arsitektur non-Melayu seperti terlihat dari bentuk Rumah Panjang yang pada umumnya didiami oleh warga keturunan Tionghoa. Pengaruh non-Melayu lain datang dari arsitektur kolonial, terutama tampak pada tangga batu dengan bentuk lengkung.

 


- Perang ketupat


 Menyusuri wisata Bangka Belitung, kamu wajib lihat langsung seperti apa tempat pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta oleh Belanda pada tahun 1948 silam. Tempat tersebut berada di dalam Gunung Menumbing, dengan ketinggian sekitar 355 mdpl. Saat masuk ke dalam, kamu akan menemukan ruangan rapat Bung Karno dan Bung Hatta, mobil Ford yang menjadi kendaraanya saat berada di pulau ini, kamar tidur mereka, hingga lonceng tua yang konon digunakan untuk memanggil tentara Belanda berkumpul saat itu.

 

  - Rumah panggung

Secara umum arsitektur di Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu seperti yang ditemukan di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatra dan Malaka. Di daerah ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman. Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta bukaan banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur yang berdiri di atas tiang rumah yang ditanam dalam tanah.

 

Berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang. Bangunan didirikan di atas 9 buah tiang, dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Atap ditutup dengan daun rumbia. Dindingnya biasanya dibuat dari pelepah/kulit kayu atau buluh (bambu). Rumah Melayu Bubung Panjang biasanya karena ada penambahan bangunan di sisi bangunan yang ada sebelumnya, sedangkan Bubung Limas karena pengaruh dari Palembang. Sebagian dari atap sisi bangunan dengan arsitektur ini terpancung. Selain pengaruh arsitektur Melayu ditemukan pula pengaruh arsitektur non-Melayu seperti terlihat dari bentuk Rumah Panjang yang pada umumnya didiami oleh warga keturunan Tionghoa. Pengaruh non-Melayu lain datang dari arsitektur kolonial, terutama tampak pada tangga batu dengan bentuk lengkung.

J. Tokoh Terkenal

Ahok

 

Pria kelahiran Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966 adalah putra pertama dari pasangan Indra Tjahja Purnama (Tjoeng Kiem Nam) dan Buniarti Ningsing (Boen Nen Tjauw) dan memiliki tiga orang adik.

 

Ahok menyelesaikan pendidikan SD hingga SMP di Belitung, kemudian ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA III PSKD Jakarta, lalu melanjutkan studinya di jurusan Teknik Geologi, Falkultas Teknik Universitas Trisakti, dan berhasil mendapatkan gelar insinyur tahun 1990.




Chandra Lie

 

Putra kelahiran Pangkal Pinang ini memulai jiwa bisnisnya di usaha garmen. Namun kurang puas dengan usaha itu, Chandra memasuki dunia penerbangan. Chandra memulai bisnisnya dengan coba-coba masuk ke dunia penerbangan, dipercaya mengelola sebuah pesawat oleh koleganya. Dengan tenaga seadanya, pengusaha garmen itu mengelola pesawat itu dengan melayani angkutan kargo dan penumpang.





K. Perguruan tinggi dan pendidikan

1. Universitas Bangka Belitung (UBB)

Universitas Bangka Belitung (UBB) merupakan salah satu universitas negeri di Bangka Belitung yang berdiri pada tahun 2006. UBB adalah penggabungan  tiga pendidikan tinggi yang sudah ada sebelumnya, yaitu Politeknik Manufaktur Timah, STIPER Bangka, dan Sekolah Tingggi Teknik Pahlawan 12. 

Meskipun terbilang baru, pada tahun 2011 UBB sempat masuk ke dalam peringkat 50 Besar Univeristas di Undonesia versi Internasional Colleges and Universities.Hingga 2016 UBB memiliki 5 fakultas dengan 18 program studi.



2. Universitas Terbuka (UT) Bangka Belitung

Universitas terbuka (UT) merupakan univeritas negeri yang menerapkan sistem belajar terbuka dan sistem belajar jarak jauh. Artinya mahasiswa tidak diwajibkan datang ke kampus untuk melakukan kegiatan perkuliahan. Sistem ini efektf untuk menjangkau mahasiswa yang berada di luar daerah maupun di daerah terpencil. 

UT juga hadir di Bangka Belitung tepatnya di Komplek Perkantoran dan Pemukiman Terpadu, Jalan Pulau Bangka, Kabupaten Bangka Tengah.


Pendidikan di Kepulauan Bangka Belitung

 Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Bangka Belitung, Prof Bustami Rahman, mengatakan, persoalan  di Babel saat ini masih terkait masalah mutu, ketersedian keterjangkauan sekolah dan angka partisipasi kasar atau ajakan orang tua untuk anaknya sekolah hingga setingi-tingginya. Tentu dalam meningkatkan mutu, ada jangka panjang, menengah, untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), untuk melakukan seperti itu, didalam komponenya harus ketersedian, infrastruktur sekolah, termasuk guru cukup atau tidak," ungkap Bustami Rahman kepada Bangkapos.com, Rabu (22/1/2020).













Categories:

Leave a Reply